Frau Wirda, guru segala kesabaran
28 04 2008AKU tidak pernah menyangkal baris kalimat ini. Guru tak lain ialah orangtua, begitu pun orangtua yang tak lain ialah guru. Apabila di rumah kita amat bergantung pada orangtua (Ayah dan Ibu), maka di sekolah kita amat berhutang budi pada Bapak dan Ibu Guru. Seperti suatu ketentuan dasar, setiap anak atau setiap siswa di sekolah “pasti memiliki guru yang difavoritkan”. Walau sedetik, setiap siswa pasti memiliki pengalaman berharga bersama gurunya, orangtuanya di sekolah. Pasti. Ya, demikianlah seorang guru. Senantiasa memiliki naskah yang berbeda dalam kehidupan dengan siswanya.
Maka pada lembar kali ini, hendak kutuliskan roman akan orangtuaku di sekolah. Lebih jelasnya beliau adalah seorang wanita paling dahsyat di sekolahku. Seorang guru yang benar-benar guru. Beliau bernama Wirdayanti. Seorang guru mata pelajaran Bahasa Jerman di SMA Negeri 3 Makassar. Para siswanya lebih akrab menyapanya Frau Wirda. Dalam bahasa Jerman, Frau berarti nyonya. Namun dapat pula dijadikan kata sapaan bagi seorang Ibu guru.
o Frau Wirda adalah sosok seorang guru yang luar biasa sabarnya, ramah, taat pada agamanya (beliau memeluk agama Islam), bersifat terbuka pada setiap siswanya dan tak lupa, beliau orang yang cerdas! Tidak salah bila pada tahun ajaran 2007/2008 beliau dinobatkan sebagai Guru Favorit SMA Negeri 3 Makassar berdasarkan hasil pemungutan suara dari siswa. Meskipun gelar barunya tersebut tak sepenuhnya disangka dan diterima oleh rekan-rekan seprofesinya, salah satu contohnya yakni mereka menganggap bahwa beliau “tak pantas” memperoleh award tersebut. Namun, Frau Wirda tetaplah Frau Wirda. Guru yang luar biasa sabarnya! Padahal hampir setiap hari seusai penetapan award tersebut, beliau mendengar cacian, sindiran atau yang sejenisnya disasarkan langsung pada telinganya. Dari peristiwa ini kugenggam pelajaran pertama yang berharga dari sosok guru yang sederhana: Sabar, sabar dan sabar!
o Peristiwa lain yang tak kalah berharga terjadi pada waktu istirahat (entah tanggal berapa, aku lupa) tatkala kutuliskan langkah-langkah kaki hingga sampai ke tepi dalam sebuah surau sekolah. Aku melihat guru cantikku (aku tidak berbohong, beliau memang sungguh cantik!) yang berselimut mukenah lengkap dengan roknya (alat shalat) tengah menunaikan shalat dhuha dan usai shalat beliau menengadahkan kedua telapak tangannya. Beliau bermunajat pada Yang Maha Kuasa betapa khusyu’nya. Seraya banyu mata indahnya menetes, “pertanda kesedihan”, pikirku. Beberapa saat setelah beliau kembali ke singgasana kerjanya, ruang guru maksudku. Aku dan beberapa orang temanku menghampirinya. Sekadar ingin tahu, “siapa gerangan pawang banyu matanya itu”. Melihat kami mendekatinya, segera Ia raih beberapa buah kursi di sekitarnya. Dan mempersilahkan kami untuk duduk.
“Hey, anak-anakku…ada apa? ayo duduk dulu”, tidak mungkin kulupa cara bicaranya yang hampir-hampir menyamai logat Jerman. Pada masa itulah, Ia curahkan segala warna-warna hatinya. Kisah hidupnya yang tentu tak mungkin kuuraikan di tempat ini. Ia benar-benar guru yang terbuka. Meski sesungguhnya kami masih kecil dan bukanlah para dewasa namun beliau tak sungkan menguraikan sebab-sebab air matanya. Bahkan tak jarang kritik dan saran kami dimintanya dalam menangani masalah-masalahnya. Beliau tak pernah meremehkan usia seseorang.
o Tanggal 1 Februari 2008 kuputuskan untuk memakai jilbab. Hari itu hari Jumat. Adik kelas, kakak kelas dan teman-temanku gempar. Heboh. Ada yang mengucapkan selamat dan ada pula yang mengatakan bahwa aku baru saja insyaf. Tapi tidak pentinglah hal itu kutuliskan dalam roman ini. Yang terpenting adalah pada hari itu juga aku bertemu Frau Wirda di ruang guru. Melihat penampilan baruku. Ia beranjak dari singgasananya kemudian mendekatiku….dan….ya! Ia memelukku dengan dekapan yang sangat….sangat membuatku terharu. Banyak guru yang melihat peristiwa tersebut. Aku tak peduli. Sambil mendekapku, Frau Wirda berkata : “Alhamdulillah nak, selamat datang di dunia Islam yang sesungguhnya.”
o Sejak didekap oleh beliau, entah mengapa aku selalu merindukannya. Mungkin karena aku tinggal berjauhan dengan Ibuku. Menurutku, Frau Wirda telah melunturkan segala anggapanku yang dulu tak pernah percaya pada kekuatan cinta seorang guru. Naluri orangtua yang dimiliki oleh guru. (Meskipun cinta dan kasih sayang orangtua kandung di rumah tetap lebih tinggi dari segala cinta orangtua manapun!). Dalam proses belajar mengajar, beliau tidak hanya mengajari kami tentang pelajaran Bahasa Jerman yang telah ditata sedemikian rupa oleh pihak kurikulum. Namun, beliau juga mengajari kami tentang bagaimana semangat dan keringat yang telah dicucurkannya untuk menerima ilmu dari jurusan yang terbilang baru tersebut. Beliau mengajari kami tentang kekuatan iman yang amat berpengaruh pada ilmu. Serta kekuatan ilmu yang berpengaruh pada iman. Keduanya harus seiring sejalan.
Mungkin rantaian kalimat-kalimat ini belum sanggup lukiskan segala tentangmu. Aku belum sanggup rampungkan seluruhnya, sebab ku tahu kisah kebaikan dan kesabaranmu belum usai. Aku tahu engkau masih akan sabar dan aku tahu engkau masih akan baik.
pupus sudah anggap
bayu tubuhmu bawa larinya
hadirmu ini nadiah*
lahir percik banyu
segarkan harinya…
*awal yang baik
Makassar, 27 April 2008





